CIREBON, 22 Juli 2026 — Founder Sunoto Institute, mendapat kesempatan menjadi pemateri dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP & SMA Islam Qurani Al Bahjah Buyut, Rabu (22/7/2026). Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi mengenai bullying atau perundungan sebagai upaya membangun lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan berkarakter. Dalam pemaparannya, Sunoto menegaskan bahwa pesantren seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi setiap santri untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi diri, bukan menjadi tempat munculnya tindakan perundungan. "Pesantren adalah rumah kedua bagi para santri. Karena itu, setiap santri harus saling menjaga, menghormati, dan tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun melalui ucapan," ujarnya. Ia menjelaskan pengertian bullying, berbagai bentuknya, mulai dari bullying verbal, fisik, sosial, hingga perundungan di media digital (cyberbullying). Menurutnya, tindakan yang dianggap sebagai candaan sering kali justru meninggalkan luka yang mendalam bagi korban. Sunoto juga mengaitkan materi dengan nilai-nilai Islam. Ia mengutip QS. Al-Hujurat ayat 11 yang melarang umat Islam saling menghina, merendahkan, maupun memanggil orang lain dengan gelar atau sebutan yang buruk. Menurutnya, ajaran Al-Qur'an telah memberikan pedoman yang jelas agar setiap muslim menjaga lisan dan menghormati sesama. Selain menjelaskan dampak bullying, Sunoto juga mengajak para santri untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik, meningkatkan prestasi sebagai bentuk pengembangan diri, serta memperbanyak teman dan menjalin pergaulan yang positif agar tercipta lingkungan yang saling mendukung. Salah seorang santri peserta MPLS mengaku materi tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini. Menurutnya, kasus bullying dapat terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan pendidikan, sehingga seluruh siswa perlu memahami cara mencegahnya. "Saya setuju dengan materi ini karena sekarang bullying bisa terjadi di mana-mana. Dampaknya juga sangat serius, bukan hanya melukai fisik, tetapi juga bisa mengganggu kondisi psikis seseorang. Semoga setelah mengikuti materi ini, kami bisa lebih saling menghargai dan menjaga teman," ungkapnya. Sebagai bentuk komitmen bersama, pada akhir sesi Sunoto mengajak seluruh santri mendeklarasikan gerakan anti-bullying. Deklarasi tersebut diwujudkan melalui penandatanganan pakta komitmen oleh setiap santri di atas selembar kertas berisi janji untuk tidak menjadi pelaku bullying maupun perundungan dalam bentuk apa pun. Dalam deklarasi tersebut, para santri menyatakan siap menciptakan lingkungan pesantren yang aman, saling menghormati, dan bebas dari kekerasan. Mereka juga berkomitmen bahwa apabila di kemudian hari terbukti melakukan tindakan bullying, maka bersedia menerima pembinaan dan diproses sesuai dengan ketentuan hukum serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen secara bergantian oleh seluruh peserta sebagai simbol tekad bersama untuk menolak segala bentuk perundungan. Forum Temu Kemis berharap deklarasi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi budaya positif yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan SMP & SMA Islam Qurani Al Bahjah Buyut.